Ayutthaya adalah kerajaan yang kaya raya, karena ia berkembang pesat sebagai pusat perdagangan antara dua kota pelabuhan utama, yang terletak di barat yaitu Suphanburi dan di timur yaitu Lopburi. Sungai Chao Phraya mengalir melaluinya, menjadi inti dari wilayah tersebut. Raja pertama Ayutthaya berasal dari dinastik Lopburi, tetapi ratu dari dinastik Suphanburi. Seiring berjalannya waktu dan pergantian dinasti, perlombaan untuk tahta yang dilakukan oleh kedua kerajaan tersebut terus berlangsung. Pada tahun 2077 SM, Raja Chaiyarach dari dinastik Suphanburi menjabat sebagai raja menteri di Phitsanulok di utara, ia mengarahkan pasukan untuk menguasai Ayutthaya, menggantikan raja muda Ratthasidatilok dan menetapkan dirinya sendiri sebagai raja ke-13 Ayutthaya, dikenal dengan nama Raja Chaiyarachathirat. Pada saat itu, Ayutthaya mengimplementasikan pemerintahan centralisasi, para penguasa lokal diturunkan menjadi aristokrasi, harus bersedia sediakala dan setia langsung kepada Ayutthaya, dan mengirimkan wanita kerajaan sebagai istri utama dari empat penjuru, simbolis dari status yang tertinggi dari monarki Ayutthaya. Struktur kekuasaan ini tampak stabil dari luar, tetapi di dalamnya penuh dengan kecewaan orang yang kekuasaannya dilemahkan, termasuk kerajaan Lopburi di Lopburi yang merasa tidak puas dan berharap untuk mendapatkan kembali kendali atas tahta.